BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketika
pemerintah Islam (Bani Umayyah) berkuasa, Spanyol menjadi salah satu pusat ilmu
pengetahuan dunia dan bagi Eropa khususnya. Eropa yang pada waktu itu juga
sedang berada dalam abad kegelapan, akhirnya menemukan Renaissance berkat kontribusi Islam yang berkuasa di Spanyol.
Al-Hakam,
sang pecinta ilmu pengetahuan, mengimpor buku-buku tentang karya ilmiah,
jurnal, dan karya sastra dari Arab ke Cordova pada masa pemerintahannya di abad
kesepuluh. Abdurrahman I membangun istana dan masjid Cordova Yang begitu indah
dan megah. Selain itu, ketika Islam berkuasa di spanyol, kota-kota dibangun,
Universitas didirikan, jembatan dan jalan diperbaiki, sistem irigasi
ditambahkan dan masih banyak yang lainnya. Singkatnya, Islam mampu memulihkan
keadaan dan bahkan membuat Spanyol menjadi baik setelah kegagalan kerajaan
Visigothic dalam memerintah.
Kesuksesan
Islam bukan tanpa sebab. Tentu saja ada faktor yang mendorong hal itu.
Kesuksesan itu juga tak lepas dari orang-orang yang berjasa. Meski pada
akhirnya Islam hancur lebur di sana, namun kejayaan Islam di spanyol mengukir
prestasi tersendiri bagi sejarah peradaban umat islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masuknya Islam di Spanyol
Masuknya
Islam si Spanyol diawali dengan lolosnya Abdurrahman, satu-satunya orang yang selamat
dari pembinasaan Bani Umayyah oleh Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 M. Ia lolos
dari kejaran tentara Bani Abbasiyah dengan cara bersembunyi di dalam sungai
Efrat. Ia mengembara ke Afrika dan akhirnya dapat berkuasa di Spanyol.
Abdurrahman
dan keturunannya berhasil mengangkat derajat islam di Spanyol. Di Cordova,
pusat pemerintahan Spanyol, masjid Cordova, Universitas Cordova dan
perpustakaan yang mengandung ribuan buku-buku ilmiah, telah didirikan pada masa
pemerintahannya. Buku-buku dalam persutakaan tersebut sebagian besar merupakan
karya para ilmuwan Muslim. Dari
perpustakaan inilah Spanyol menjadi salah satu pusat pengetahuan dunia. Dari
sini bisa dilihat bahwa Islam memberikan perubahan yang sangat baik untuk
kehidupan dunia barat.
Dalam penaklukan
Spanyol secara kesuluruhan, kemenangan selalu berada pada pihak orang Muslim.
Kemenangan ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor eksternal (berasal dari
luar pihak muslim) dan faktor internal (berasal dari dalam pihak muslim)[1][1].
Faktor
eksternalnya adalah keadaan ekonomi, sosial, politik, dan keagamaan di Spanyol
yang memburuk. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi
ke dalam beberapa Negara kecil. Bersamaan dengan itu, penguasa Gothic bersikap
tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa daerah (aliran
Monofosit), apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi
yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut
agama Kristen. Yang tidak bersedia akan disiksa dan dibunuh. Selain itu,
masyarakat Spanyol hidup dalam sistem kelas, dan rakyat kasta bawah menjadi
sangat tertindas. Dalam situasi ini, masyarakat Spanyol mendambakan seorang
juru penyelamat dan pada waktu itu Islam dating dan menawarkan kedamaian. Sektor
ekonomi di Spanyol sangat mengkhawatirkan. Di bawah kekuasaan kerajaan Visigotghic, pertanian, perindustrian,
dan pertambangan sama sekali tidak berkembang alias lumpuh.
Sedangkan
faktor internalnya adalah para pemimpin Islam yang tangguh, kuat, kompak, cakap,
berani dan percaya diri. Selain itu, tentara Islam menunjukkan bahwa agama yang
mereka percayai adalah agama yang penuh dengan toleransi, persaudaraan, dan
tolong menolong.
Dalam proses penaklukan Spanyol ada tiga orang yang
berjasa yaitu:
1. Tharif ibn
Malik. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia
menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu
pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka
menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Ia menang dan kembali ke
Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya.
2. Thariq ibn
Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena
pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari
sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah dan
sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid Rahimahullah. Pasukan
itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah.
Ia menyiapkan pasukannya di sebuah gunung yang dikenal dengan nama
Gibraltar (Jabal Thariq). Dari situ Thariq Rahimahullah dan pasukannya
terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu
kota kerajaan Gothik saat itu).[2][2]
3. Musa ibn
Nushair. Beliau merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran
dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dan akhirnya beliau berdua
memenangkan daerah Spanyol.
B. Perkembangan
Islam di Spanyol
1. Periode Pertama
(711-755 M )
Pada priode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan
para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di
Damaskus. Dalam periode ini stabilitas politik negeri belum tercapai
secara sempurna. Hal ini disebabkan oleh adanya gangguan-gangguan yang
datang dari dalam dan luar.
Gangguan dari dalam adalah perselisihan di antara
elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan.[3][3] Selain itu,
terdapat perbedaan pandangan antara Khalifah di Damakus dan gubernur Afrika
Utara. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur)
Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam
di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak
pernah tunduk kepada pemerintahan Islam.
2. Periode
kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan
seorang yang bergelar Amir (panglima atau Gubernur) tetapi tidak tunduk kepada
pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di
Baghdad. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman
Al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Al-Rahman Al-Autshat, Muhammad ibn Abd
Al-Rahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh
kemajuan-kemajuan baik dalam bidang politik maupun dalam bidang
peradaban. Pemikiran filsafat mulai masuk pada periode ini, terutama di
zaman Abdurrahman Al-Autshat. Abd Al-Rahman Al-Dakhil mendirikan masjid
Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa
dalam menegakkan hukum Islam dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang
kemiliteran. Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi.
pada pertengahan Abad ke-9, stabilitas negara terganggu dengan munculnya
gerakan Kristen fanatik. Selain itu, terjadi gerakan revolusi oleh orang- orang
yang merasa tidak puas dengan pemerintahan, dan pemberontakan yang dipelopori
oeh Hafsun dan anaknya. selain itu, perang antara suku arab dan suku Barbar
sering terjadi.
3. Periode
ketiga (912-1013 M)
Periode ini mulai berlangsung mulai dari pemerintahan
Abd Al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “Raja-raja
Kelompok” yang dikenal dengan sebutan muluk al-thawaif . pada periode ini,
spanyol diperintahkan oleh penguasa dengan gelar Khalifah. Khalifah-khalifah
besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abd Al-Rahman
Al-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam (976-1009M).
Pada periode ini, Umat IslamSpanyol mencapai puncak
kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd
Al-Rahman Al-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaan memiliki
koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri
perpustakaan. Awal kehancuran Spanyol terjadi ketika Hisyam naik tahta. pada
waktu usianya berumur sebelas tahun. karena itulah kekhalifahan berada pada
tangan para pejabat. para pejabat mengankat Ibn Abi ‘Amr sebagai pemegang
kekuasaan. Ia dinilai berhasil dalam pemerintahnnya karena berhasil melakukan
ekspansi yang cukup luas. Pada tahun 1002 M, ia digantikan oleh anaknya, Al-
Muzaffar. Pada tahun 1008 M, Al-Muzaffar digantikan oleh adiknya yang sama
sekali tidak berkompeten dalam memerintah. Sehingga dalam pemerintahannya
terjadi kehancuran yang parah dan para pejabat pun tak ada yang bisa
memperbaiki Spanyol pada waktu itu. Pada 1013 M para menteri menghapus jabatan
kholifah dan pada waktu itu Spanyol sudah terpecah menjadi negara- negara
kecil.
4. Periode keempat
(1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari
tiga puluh Negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau
Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova,
Toledo, dan sebagainya. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuk
masa pertikaian intern. Ironisnya, kalu terjadi perang saudara, ada di antara
pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen.
Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk
pertama kalinya, orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif
penyerangan. Meskipun, kehidupan politik tidak stabil, namun, kehidupan
intelektual terus berkembang pada periode ini.
5. Periode
kelima (1086-1248 M)
Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh
kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas
dari kekuasaan Islam.
6. Periode
keenam (1248-1492 M)
Pada periode
ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti Bani Ahmar
(1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman
An-Nasir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah
yang kecil. Kekuatan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini
berakhir , karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan
(Abu Abdullah). Abu Abdullah meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella,
inilah yang menyebabkan hilangya eksistensi Islam di Spanyol. Abu Abdullah
tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya
mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella.
Kemudian, hijrah ke Afika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di
Spanyol tahun 1492 M. umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan,
masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak
ada lagi umat islam di daerah ini.[4][4]
C.
Kemajuan Peradaban
1. Pengetahuan
Kemajuan yang terjadi di
Spanyol pada waktu itu adalah berkat
inisiatif Al-Hakam (961-976 M). Al-Hakam mengimpor naskah-naskah
(sastra, filosofis, dan karya ilmiah) dari Timur ke Spanyol. Al-HAkam II
memperluas dan memperbesar perpustakaan yang ada di Ibukota Cordoba sehingga
menjadi perpustakaan terbesar untuk seluruh Eropa (pada masanya dan abad-abad
berikutnya. Kterlibatan dan keasyikannya pada dunia ilmu pengetahuan dilukiskan
dalam Historians’ History os the World (Vol. VIII:233)[5][5]
a. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brillian
dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang
dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap
filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M, selama
pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad Ibnu Abd Al-Rahman
(832-886 M).[6][6]
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyl adalah Abu Bakr
Muhamad ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajjah. MAsalah yang
dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum Opusnya adalah Tadbir
Al-Mutawahhid.[7][7] Tokoh utama
kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail. Karya Abu Bakr ibn Thufail adalah Hay ibn
Yaqzhan. Tokoh utama selanjutnya adalah Ibu Rusyd. Ibnu Rusyd adalah filsuf
terbesar Islam.
b.
Fiqh
Spanyol adalah penganut mazhab MAliki dalm bidang fiqh. Mazhab ini
diperkenlakan oleh Ziyad ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan
oleh Ibn Yahya, yang menjadi Qadhi pada masa pemerintahan Hisyam ibn Abd
Al-Rahman. Tokoh-tokoh lain dalm bidang fiqh di Spanyol antara lain Abu Bakr
ibn Al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id l-Baluthi, dan Ibn Hazm.
c.
Sains
Ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi kimia dan lain-lain juga
berkembangn dengan baik. Abbas ibn Farnas terkenal dengan kiia dan astronomi.
Ia adalah orang yang menemukan pembuatan kaca dari batu.[8][8] Ahmad ibn Ibas adalah ahli dalam
bidang obat-obatan. Umm Al-HAsan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan
Al-hafidz adalah dua perempuan yang terkenal dalam bidang kedokteran.
Dalam bidang sejarah dan geografi ada Ibn Jubair yang menulis tentang
negeri-negeri muslim Meditirenia, Ibn Al-Khatib
yang menyusun riwayat Granada, dan Ibnu Khaldun yang merumuskan filsafat
sejarah.
d.
Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara, tokohnya adalah Al-Hasan ibn Nafi.
Beliau terkenal sebagai penggubah lagu. Dan di dalam setiap pertunjukan dan
perjamuan, kemampuannya selalu dipetunjukkan. Ia terkenal dengan sebutan
Zaryab.
e.
Bahasa dan Sastra
Bahasa yang digunakan dalam administrasi dan pemerintah Spanyol adalah
bahasa Arab. Uniknya penduduk asli tidak memprotes keadaan tersebut. Bahkan,
mereka justru cenderung menomorduakan bahasa asli mereka.
Tokoh bahasa ketika itu adalah Ibn Sayyidih, Ibn Malik (pengarang Alfiyah), Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu
Ali Al-Isyibili, Abu Al-Hasan Ibn Usfur, dan abu Al-Hayyan Al-Gharnathi.
Selain itu, ada juga Ibn Abdi Rabbih dengan bukunya Al-Iqd al-Farid, Ibn
Basam dengan bukunya Al-Dzakirah fi Miahasin al-Jazirah, dan Al-Fath Ibn
al-Haqan dengan karangannya Al-Qalaid.[9][9]
2. Pembangunan
Pemerintah Islam membuat tropong bintang di Cordova, membangun pasar dan
jembatan, melakukan upaya pengendalian banjir dan penyimpanan air hujan,
membangun sistem irigasi hidrolik dengan menggunakan roda air (water wheel), memperkenalkan tanaman
padi dan jeruk, dan mendirikan pabrik-pabrik tekstil, kulit, logam, dan
lainnya.
Namun demikian, pebangunan yang paling menonjol adalah pembangunan
gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, mesjid, pemukiman, dan
taman-taman. Di antara pembangunan yang megah adalah adalah mesjid Cordova,
kota Al-Zahra, Istana JA’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana Al-Makmun,
mesjid Seville, dan Istana Al-Hara di Granada.
D.
Sebab Kemajuan Dan Kemunduran
1.
Kemajuan
Ø Toleransi beragama
Ø Pemimpin yang berwibawa
Ø Kesatuan budaya dunia islam
2.
Kemunduran
Ø Konflik islam dengan Kristen
Ø Tidak adanya ideologi pemersatu
Ø Kesulitan ekonomi
Ø Tidak jelasnya system peralihan kekuasaan
Ø Keterpencilan
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Peradaban Islam di Spanyol terlihat setelah masuknya
Ad-Dakhil ke sana. Perlahan demi perlahan Islam memberikan kontribusi yang
cukup besar bagi kemajuan Spanyol. ejayaan Islam di Spanyol merupakan salah
satu prestasi penting bagi umat islam karena memberikan sumbangsih yang besar
bagi kemajuan dunia dan Eropa pada khususya. Kemajuan ini dicapai karena
beberpa faktor. Yaitu factor yang dating dari diri orang Islam sendiri dan dari
luar orang Islam.
Tapi pada
abad ke – 10 M dunia Islam mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu
juga peradabannya. Kemunduran itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada
abad keenam belas islam sudah hamper tak ada lagi di Spanyol.
DAFTAR
PUSTAKA
Fakhri, Majid. 1986. Sejarah Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Jaya
Ismail, Faisal. 1996. Paradigma Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Titian Ilahi Press
Nasution, Harun. 1983. Islam Ditinjau
dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: Pustaka Al-Husna
Syalabi, A.. 1983. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta:
Pustaka Al-Husna
Yatim, Badri. 2007. Sejarah
Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Raya
http://my.opera.com/hasniew/blog/2010/07/11/peradaban-islam-di-andalusia-spanyol-2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar