Peserta
didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan
formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Pembelajaran
Kota Nagasaki
1945 sebelum dan sesudah di jatuhkan bom atom,
merupakan bentuk pembelajaran akibat dari Perang Dunia
Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku
yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman.
Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia
dapat melihat perubahan
terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri. Konsep tersebut adalah teoretis,
dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati:
|
“
|
Anda telah
melihat individu
mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku
dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda
(bahkan saya rasa mayoritas dari Anda) telah "belajar" dalam suatu
tahap dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa
pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan
merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari
caranya berperilaku sebelumnya.
|
Pembelajaran dalam dunia pendidikan
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi
proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta
pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain,
pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar
dengan baik.
Di sisi lain
pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi
sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru
mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga
mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat
memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek
psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan
hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan
pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Pembelajaran
yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas
pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar
yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan
pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap
dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik,
ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan
membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Teori pembelajaran
Tiga teori
telah ditawarkan untuk menjelaskan proses di mana seseorang memperoleh pola
perilaku, yaitu teori pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan
pembelajaran sosial.
Prinsip-prinsip pembelajaran
Berikut ini
adalah prinsip umum pembelajaran yang penulis rangkum dari beberapa pakar
pembelajaran yang meliputi:
Perhatian dan Motivasi
Perhatian
mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori
belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak
mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa
apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu
dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih
lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan
perhatian dan juga motivasi untuk mempelajarinya. Apabila dalam diri siswa
tidak ada perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari, maka siswa tersebut
perlu dibangkitkan perhatiannya. Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan
faktor yang besar pengaruhnya, kalau peserta didik mempunyai perhatian yang
besar mengenai apa yang dipelajari peserta didik dapat menerima dan memilih
stimuli yang relevan untuk diproses lebih lanjut di antara sekian banyak
stimuli yang datang dari luar. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk
mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan; melihat masalah-masalah yang
akan diberikan; memilih dan memberikan fokus pada masalah yang harus diselesaikan.
Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan
belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas
seseorang. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang
memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik
perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasi untuk mempelajarinya.
Misalnya, siswa yang menyukai pelajaran matematika akan merasa senang belajar
matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, karenanya adalah kewajiban
bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap mata
pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Motivasi dapat diartikan sebagai
tenaga pendorong yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan
tertentu. Adanya tidaknya motivasi dalam diri peserta didik dapat diamati dari
observasi tingkah lakunya. Apabila peserta didik mempunyai motivasi, ia akan
- bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar;
- berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut;
- Terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
Motivasi
dapat bersifat internal, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri peserta
didik dan juga eksternal baik dari guru, orang tua, teman dan sebagainya.
Berkenaan dengan prinsip motivasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, yaitu: memberikan dorongan,
memberikan insentif dan juga motivasi berprestasi.
Keaktifan
Menurut
pandangan psikologi anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan
untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak
bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan pada orang
lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak mengalami sendiri. John Dewey
mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa
untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru
hanya sebagai pembimbing dan pengarah. Menurut teori kognitif, belajar
menunjukkan adanya jiwa yang aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima,
tidak hanya menyimpan saja tanpa mengadakan tansformasi. Menurut teori ini anak
memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu
mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya.
Thordike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum "law of
exercise"-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya
latihan-latihan. Hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat jika sering
dipakai dan akan berkurang bahkan lenyap jika tidak pernah digunakan. Artinya
dalam kegiatan belajar diperlukan adanya latihan-latihan dan pembiasaan agar
apa yang dipelajari dapat diingat lebih lama. Semakin sering berlatih maka akan
semakin paham. Hal ini juga sebagaimana yang dikemukakan oleh Mc.Keachie bahwa
individu merupakan "manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu".
Dalam proses belajar, siswa harus menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat
berupa kegiatan fisik yang mudah diamati maupun kegiatan psikis yang sulit
diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih
keterampilan-keterampilan dan sebaginya. Kegiatan psikis misalnya menggunakan
pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan
suatu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan lain
sebagainya.
Keterlibatan Langsung/Pengalaman
Belajar
haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, belajar adalah mengalami dan tidak bisa
dilimpahkan pada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar
mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman
langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak hanya
mengamati, tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan
bertanggung jawab terhadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar
membuat tempe yang paling baik apabila ia terlibat secara langsung dalam
pembuatan, bukan hanya melihat bagaimana orang membuat tempe, apalagi hanya
mendengar cerita bagaimana cara pembuatan tempe. Pembelajaran yang efektif
adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan
aktivitas sendiri. Dalam konteks ini, siswa belajar sambil bekerja, karena
dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman, pengalaman serta dapat
mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Hal ini
juga sebagaimana yang di ungkapkan Jean Jacques Rousseau bahwa anak memiliki potensi-potensi
yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan
mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak
mempunyai kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan
dirinya sendiri. Dengan demikian, segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan
pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, bekerja sendiri,
dengan fasilitas yang diciptakan sendiri. Pembelajaran itu akan lebih bermakna
jika siswa "mengalami sendiri apa yang dipelajarinya" bukan
"mengetahui" dari informasi yang disampaikan guru, sebagaimana yang
dikemukakan Nurhadi bahwa siswa akan belajar dngan baik apabila yang mereka
pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar
akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah. Dari
berbagai pandangan para ahli tersebut menunjukkan berapa pentingnya
keterlibatan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Pentingnya
keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan
"learning by doing"-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan
langsung dan harus dilakukan oleh siswa secara aktif. Prinsip ini didasarkan
pada asumsi bahwa para siswa dapat memperoleh lebih banyak pengalaman dengan
cara keterlibatan secara aktif dan proporsional, dibandingkan dengan bila
mereka hanya melihat materi/konsep. Modus Pengalaman belajar adalah sebagai
berikut: kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita
dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar,
70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.
Hal ini menunjukkan bahwa jika guru mengajar dengan banyak ceramah, maka
peserta didik akan mengingat hanya 20% karena mereka hanya mendengarkan.
Sebaliknya, jika guru meminta peserta didik untuk melakukan sesuatu dan
melaporkan nya, maka mereka akan mengingat sebanyak 90%. Hal ini ada kaitannya
dengan pendapat yang dikemukakan oleh seorang filsof Cina Confocius, bahwa:
|
“
|
apa yang
saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apa yang saya
lakukan saya paham. Dari kata-kata bijak ini kita dapat mengetahui betapa
pentingnya keterlibatan langsung dalam pembelajaran.
|
”
|
Pengulangan
Prinsip
belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi daya.
Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang
terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan,
berfikir dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut
akan berkembang, seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam,
maka daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan sempurna.
Dalam proses belajar, semakin sering materi pelajaran diulangi maka semakin
ingat dan melekat pelajaran itu dalam diri seseorang. Mengulang besar
pengaruhnya dalam belajar, karena dengan adanya pengulangan "bahan yang
belum begitu dikuasai serta mudah terlupakan" akan tetap tertanam dalam
otak seseorang. Mengulang dapat secara langsung sesudah membaca, tetapi juga
bahkan lebih penting adalah mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah
dipelajari misalnya dengan membuat ringkasan. Teori lain yang menekankan
prinsip pengulangan adalah teori koneksionisme-nya Thordike. Dalam teori
koneksionisme, ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara
stimulus dan respon, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu
memperbesar peluang timbulnya respon benar.
Tantangan
Teori medan
(Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam belajar berada
dalam suatu medan. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang
ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan dalam mempelajari bahan belajar,
maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan
belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar
telah tercapai, maka ia akan dalam medan baru dan tujuan baru, demikian
seterusnya. Menurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi
hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Agar pada diri anak timbul motif yang
kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan pelajaran harus
menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa
bersemangat untuk mengatasinya. Bahan pelajaran yang baru yang banyak
mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk
mempelajarinya. Penggunaan metode eksperimen, inquiri, discovery
juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan
sungguh-sungguh. Penguatan positif dan negatif juga akan menantang siswa dan
menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukuman yang
tidak menyenangkan.
Balikan dan Penguatan
Prinsip
belajar yang berkaiatan dengan balikan dan penguatan adalah teori belajar operant
conditioning dari B.F. Skinner.Kunci dari teori ini adalah hukum effeknya
Thordike, hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat, jika disertai
perasaan senang atau puas dan sebaliknya bisa lenyap jika disertai perasaan
tidak senang. Artinya jika suatu perbuatan itu menimbulkan efek baik, maka
perbuatan itu cenderung diulangi. Sebaliknya jika perbuatan itu menimbulkan
efek negatif, maka cenderung untuk ditinggalkan atau tidak diulangi lagi. Siswa
akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik.
Apabila hasilnya baik akan menjadi balikan yang menyenangkan dan berpengaruh
baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu tidak saja dari
penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan, atau dengan
kata lain adanya penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar.
Siswa yang belajar sungguh-sungguh akan mendapat nilai yang baik dalam ulangan.
Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang
baik dapat merupakan operan conditioning atau penguatan positif.
Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa
takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk
belajar yang lebih giat. Di sini nilai jelek dan takut tidak naik kelas juga
bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat, inilah yang disebut penguatan
negatif.
Perbedaan Individual
Siswa
merupakan makhluk individu yang unik yang mana masing-masing mempunyai
perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi, minat bakat, hobi, tingkah
laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam hal latar belakang kebudayaan,
sosial, ekonomi dan keadaan orang tuanya. Guru harus memahami perbedaan siswa
secara individu, agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya
itu. Siswa akan berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Setiap
siswa juga memiliki tempo perkembangan sendiri-sendiri, maka guru dapat memberi
pelajaran sesuai dengan temponya masing-masing. Perbedaan individual ini
berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu
perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan kalsik
yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan
individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa
sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama,
demikian pula dengan pengetahuannya.
Pengondisian klasik
Ivan Pavlov,
ahli fisiolog dari Rusia yang memperkenalkan Teori Pengkondisian Klasik
Pengkondisian
klasik adalah jenis pengkondisian di mana individu merespon beberapa stimulus
yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru. Teori ini tumbuh berdasarkan
eksperimen untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons
terhadap bel yang berdering, dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang
ahli fisolog Rusia bernama Ivan Pavlov
Pengondisian operant
Pengkondisian
operan adalah jenis penglondisian di mana perilaku sukarela yang diharapkan
menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman.Kecenderungan
untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya
penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku.
Dengan demikian, penegasan akan memperkuat sebuah perilaku dan meningkatkan
kemungkinan perilaku tersebut diulangi.
Apa yang
dilakukan Pavlov untuk pengkondisian klasik, oleh psikolog Harvard, B. F.
Skinner, dilakukan pengkondisian operan. Skinner mengemukakan bahwa menciptakan
konsekuensi yang menyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku tertentu akan
meningkatkan frekuensi perilaku tersebut.
Pembelajaran sosial
Pembelajaran
sosial
adalah pandangan bahwa orang-orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman
langsung. Meskipun teori pembelajaran sosial adalah perluasan dari
pengkondisian operan, teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah sebuah fungsi
dari konsekuensi. Teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran melalui
pengamatan dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran.
Metode pembentukan perilaku
Ketika
seseorang mencoba untuk membentuk individu dengan membimbingnya selama
pembelajaran yang dilakukan secara bertahap, orang tersebut sedang melakukan
pembentukan perilaku.
Pembentukan perilaku adalah secara sistematis menegaskan setiap urutan langkah
yang menggerakkan seorang individu lebih dekat terhadap respons yang
diharapkan. Terdapat empat cara pembentukan perilaku: melalui penegasan
positif, penegasan negatif, hukuman, dan peniadaan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar